Adaw!


Setiap tahun, di akhir Ramadhan, hampir semua umat muslim dunia khususnya Indonesia mudik ke kampung halaman mereka masing-masing. Mereka berniat untuk bersilarurrahim dengan orang tua, saudara dan kerabat. Biasanya momen mudik itu mereka manfaatkan untuk bersenang-senang. Berekreasi bersama anak-anak dan keluarga tercinta. Menikmati kampung halaman, memperkenalkan anak mereka kepada sahabat dan kerabat. Memperkenalkan anak-anak kepada kuliner khas kampung halaman.

       Demikian juga halnya dengan keluarga kami. Aku dan suami meskipun tidak setiap tahun, kami juga memegang tradisi mudik ini. Ada rasa senang dan bahagia ketika kami bertemu dengan orangtua dan sanak saudara sewaktu Idul Fitri dibanding dengan jika kami bertemu selain pada bulan Syawal.
Kami merantau di Jakarta. Perjalanan mudik kami cukup jauh. Kami berasal dari kota Bukittinggi. Jika kami menggunakan bis, maka kami perlu waktu 2 hari 2 malam untuk sampai di kampung. Jika menggunakan pesawat cukup 1,45 jam saja. Sisanya 2 jam perjalanan darat dari bandara menuju Bukittinggi.
13753192792106429075
Terlantar di Bandara Soetta selama 8 jam (Foto : Nelfi)

Banyak kisah seru, sedih, bahagia yang kali alami ketika kami mudik. Dari mulai mengantri ketika naik kapal feri yang akan menyeberangi kami menuju pulau Sumatera, hingga menunggu delay pesawat selama 8 jam di bandara. Semua itu sudah pernah kami alami. Tapi semuanya terbayar ketika menerima pelukan hangat keluarga tercinta ketika kami sampai di kampung halaman.
Salah satu kisah seru saat mudik sekaligus gokil dan menyedihkan pernah dialami suamiku sebelum kami menikah. Aku sudah minta ijin beliau untuk berbagi kisah seru dan menyedihkan ini untuk kita semua.

Hari Yang Ditunggu-tunggu
        Hari itu minggu terakhir Ramadhan. Syarmi, dan adiknya Liza yang kebetulan bekerja di Jakarta, ingin mudik ke kampung halaman. Merekapun mempersiapkan segala sesuatunya dengan bersemangat. Setelah semua kelengkapan barang dirasa cukup, merekapun berangkat menuju pol bis yang akan mengantar mereka menuju kampung halaman.
      Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Mereka mendapatkan tempat duduk yang telah mereka pesan sebelumnya. Setelah memasukkans semua barang bawaan ke dalam bagasi bis, merekapun duduk manis di bangku sesuai dengan nomor di tiket. Sebagaimana perjalanan ke sumatera, mereka harus menyeberangi Selat Sunda dengan menggunakan Kapal Feri. Sampai sejauh ini semua lancar-lancar saja.
Haripun berganti, sudah bebrapa kali bis berhenti untuk istirahat dan makan. Mereka mengikuti penumpang lain untuk makan, dan shalat.
         Pagi itu mereka sudah memasuki kota Jambi. Meskipun masih mengantuk Syarmi menikmati perjalanannya. Hingga tiba-tiba bis berhenti di sebuah kota yang bernama Muaro Tebo, Jambi. Para penumpang bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Akhirnya Syarmi turun dari bis. Ia ingin mengetahui dan melihat langsung apa yang terjadi.
      “Ada masalah Uda?” tanyanya kepada kenek bis yang sedang masuk ke dalam kolong bis.
      “Iya nih, ada sedikit kerusakan di mesin,” sahut kenek sambil terus melakukan pekerjaannya. Syarmipun menunggu di warung yang tidak begitu jauh dari situ. Adiknya Liza yang merasa bete di dalam bis, akhirnya ikut turun. Mereka memesan teh manis di warung itu sambil menunggu perbaikan bis. Cukup lama mereka menunggu, tapi ternyata perbaikan belum juga selesai. Beberapa penumpang lain mulai tidak sabar. Ada yang menggertu kesal, ada juga yang berusaha menyabarkan diri.
       “Hoi! masih lama ya!” teriak salah satu penumpang kepada kondektur yang masih berkutat di bawah bis. Dengan kesal kondekturpun menyahut,”masih!”
     “Bara hari lai kami ka manunggu ko!” teriak yang lain, mereka sudah mulai kesal. Hampir setengah hari mereka menunggu perbaikan bis itu di jalan, tapi hasilnya bis itu masih saja belum sehat.
     “Kalau dak nio manunggu, cari se oto lain
,” kali ini suara sopir bis menyahut dengan suara tak kalah kesalnya. Sopir itu sudah berusaha memperbaiki bisnya. Entah kenapa bis itu rusak ditengah perjalanan seperti ini. Padahal dia yakin bis itu sehat-sehat saja sewaktu akan berangkat kemarin.
      Dak amuah doh ko, ancak wak cari oto lain lai,” salah seorang penumpang memutuskan untuk naik bis lain. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Syarmi dan Liza akhirnya memutuskan untuk mencari tumpangan lain juga. Mereka sudah sangat lelah. Akhirnya merekapun memutuskan untuk menyetop bis apa saja yang menuju Bukittinggi dan sekitarnya.
       Setelah cukup lama menunggu, ternyata tak satupun bis yang lewat. Mungkin karena sudah malam. Tapi mereka tetap menunggu, bis yang mogok, masih saja belum selesai diperbaiki.

Dapat Tumpangan
     “Mudah-mudahan oto tu ka Bukik,” ujar Syarmi, ketika melihat sebuah cahaya bis dari kejauhan. Harapanpun muncul , mereka berdiri menunggu bis itu. Syarmipun melambaikan tangannya untuk meminta bis yang dimaksud berhenti. Ternyata mobil yang dikiranya bis itu adalah sebuah truk. Truk itupun berhenti tepat di depan mereka.
      “Numpang sampai terminal ya Pak,” pinta Syarmi ketika pak sopir melongokkan kepalanya dari kaca mobil.
     “Ya udah, ayo naik!” sahut Pak sopir. Tak terkira senangnya hati mereka mendengar ucapan sopir itu. Dengan bersemangat Syarmi melemparkan tas dan barang bawaannya kee dalam truk itu.
     “Adaw!” terdengar teriakan kesakitan dari dalam truk. Syarmi yang akan melempar satu tas lagi, terpaksa menahan tangannya. Ia tidak mengira ternyata ada orang di dalam truk itu. Jantungnya berdebar, antara menahan tawa dan menahan rasa takut. Ia takut orang yang kena lemparan tas itu akan marah padanya. Tapi ia menahan tawa karena mendengar teriakan kesakitan yang aneh terdengar di telinganya.
     “Maaf Pak, gak sengaja!” teriak syarmi dari bawah truk.
     “Hoi! Buruan!” sopir truk mendesak agar mereka segera menaiki truk, karena sopir truk itu sudah cukup lama menunggu.
      “Iya Pak!” Syarmi mendorong adiknya untuk menaiki truk, setelah itu ia juga menyusul memanjat truk itu.
      “Lihat-lihat dong kalau mau melempar tas,” terdengar gerutuan kesakitan dari mulut seorang bapak. Syarmi memandangi bapak yang sedang menggosok kepalanya itu dengan pandangan memelas. Ia benar-benar malu dan merasa bersalah.
      Maafkan ambo Pak, ambo tadi indak sengaja,” ia meraih tangan Bapak itu untuk menyalaminya. Meskipun cemberut, bapak itu menerima permintaan maaf Syarmi. Dua bersaudara itu akhirnya duduk di pojok truk yang masih lowong. Walaupun mukanya msih merah menahan malu, Syarmi memilih menunduk menghindari tatapan bapak itu.
      Truk pun berjalan memecah keheningan malam. Kedua adik kakak itu dan penumpang lainnya diam membisu sembari bersidekap. Udara dingin dan angin yang kencang karena laju truk membuat mereka menggigil kedinginan. Syarmi dan Liza mengeluarkan sarung yang mereka gunakan untuk shalat. Mereka menjadikan sarung itu sebagai selimut, guna mengusir udara dingin.
       Mereka tertidur sambil memegang tas dan barang bawaan mereka. Walau sebenarnya kurang nyaman dengan posisi duduk yang lesehan itu. Para penumpang truk itu tidak peduli lagi dengan keadaan mereka. Syarmipun demikian, ia tidur sambil bersandar pada barang bawaannya. Letih sekali kelihatannya.


Naik Bus Lagi


     Tak terasa lima jam sudah mereka berada di atas truk itu. Mereka benar-benar kelelahan dan tertidur lelap, sehingga tidak tahu kalau ternyata mereka sudah memasuki propinsi Sumatera barat.
     “Bangun woi!” teriak seseorang membuat Syarmi dan Liza terloncat dari tidurnya. Mereka mengucek matanya. Lelaki kenek truk sedang memandang tajam kepada mereka.
    “Sudah sampai mana nih?” gumam Syarmi. Ia memandang sekitarnya. Beberapa orangyang menumpang di truk itu sudah tidak terlihat, demikian juga dengan bapak yang terkena lemparan tasnya tadi. Hanya ada dia dan adiknya serta laki-laki yang membangunkannya. Kenek truk itu berlalu meninggalkan mereka.
      Buru-buru Syarmi dan Liza mengemasi tas dan barang bawaan mereka. Truk itu sedang berhenti di depan sebuah warung nasi. Syarmi tidak tahu persisnya di daerah mana ia berada. Ia meloncat turun dari truk. Liza memberikan barang-barang nereka kepada kakaknya di bawah, setelah itu iapun ikut meloncat turun dari truk dibantu kakaknya.
     “Kalau kalian mau ke Padang, cari bus aja lagi, kita sudah sampai di Solok,” demikian teriak kenek truk dari bawah truknya. Dia itu sedang memeriksa ban belakang truknya.
      “Makasih Da,” ujar Syarmi. Ia dan adiknya berlalu menuju warung nasi. Matahari sudah tinggi. Mereka ingin makan dulu.
      Selesai makan, mereka bertanya kepada pemilik warung tentang bus yang harus mereka tumpangi. Pemilik warung menyarankan mereka menunggu di jalan raya di depan warung itu. Merekapun segera menuju jalan raya. Menurut pemilik warung tadi, bus menuju Bukittinggi pasti lewat setiap jam.
Tak lama menunggu, merekapun berhasil mendapatkan bus. Dua jam kemudian mereka sudah sampai di rumah dan bertemu dengan ibu dan bapak mereka. Hilang sudah kelelahan dan rasa kesal ketika melihat senyuman dari kedua orang tua mereka. Bagi mereka, senyum dua orang tua itulah yang membuat mereka ikhlas melakukan ritual mudik yang kadang membuat mereka bersakit-sakit dahulu, dan bersenang-senang kemudian. [Nelfi]
13753196391755500214
Letih dijalan, terbayar oleh senyuman mereka

Comments

Popular posts from this blog

Infeksi Saraf Mata Akibat Sres dan Kecapaian

Kejadian Aneh di Asrama

Summarecon Bekasi, Dekat di Hati